Sabtu, 10 November 2018


Aku terluka. Melihat ekpresimu yang seolah merendahkan jawabanku saat itu. Harusnya kau peka sebagai seorang madrasah dari anak-anakmu, bahwa tak elok membandingkan posisiku dan posisi anakmu yang Alhamdulillah telah dianugerahi buah hati.

"Anakku nikahnya bulan ini, dan tepat di bulan ini sudah dikaruniai anak cantik. Kamu kok lama ya? Makanya jangan tiduran terus. Usaha dong". Bibirmu berlenggak-lenggok tak bersimetris. Sinis. Bersorak bangga.


Aku terdiam lebih lama, ya, aku lebih lama mencerna setiap diksi yang kau lontarkan. Tak ada yang salah, aku hanya sedang membuka bab empati dan bangga diri dalam kampus kepribadian. Masih utuh atau sedang cacat?


Segera ku memasuki kelas dengan hati yang lembab, 

"Good morning every body? How are you today?"

Ku tarik senyum di hadapan anak-anak. Ada rasa berserak di sudut hati, ada hikmah terpikirkan dicerita pagi?


***

Di suatu waktu, seorang adik menghubungiku. Bertanya dan berbagi galau bahwa dia sedang dililit rasa yang senada.


"Kak, tadi aku baper setiap melihat postingan tespek temanku yang udah positif, padahal aku yg duluan nikah". 

Ku balas prolognya dengan candaan manis,
Wah dapat pelajaran baru nih, jadi pembelajaran buat kita ke depan, Insya Allah jika suatu hari kita akan diamanahi janin, tetap stay kalem ya. Happynya boleh dibagi tapi jangan mubazir. Biar lebih adem, tespeknya ngak usah diposting, kurang elok saja bekas pipis terus dipelototin semua warga net, kan geli :-), kasian juga yang sedang menanti, kayak dinda sekarang, iya kan? Ckck. Bisik manja aja pada orang tercinta. Kita berusaha tidak membuka ruang galau dihadapan para penanti.


Cerita selesai, kita saling menguatkan dalam doa dengan harapan yang sama


***

Di waktu yang berbeda, masuklah pesan dari kawan lama. 

Ini pertama kali dia menceritakan kondisi rumah tangganya. Ku baca sampai selesai dengan kesimpulan yang sesak.

Oh tidak. Aku tak ingin menebar energi negatif ini. Mungkin ini ada dapurnya sendiri. Ada sesal di ending cerita, seolah kehadiran anak pada keluarganya adalah awal mulanya konflik dalam keluarga. Rupanya ada laci kosong yang belum terisi dengan matang, hingga ketaatan pada suami nyaris tergadai hanya alasan finansial yang belum tercukupi. Sebagaimana curahan-curahan popok bayi tak dinafkahi yang selalu ia obralkan di dinding facebook. 

Entahlah, aku tak ingin menyimpulkan episode ini.


****

Cerita pun masih berlanjut dengan alur yang sama. 

Seorang teman aktivis menghubungiku. Tanya kabar dan permohonan maaf. Mungkin di usia pernikahanku yang memasuki 8 bulan sudah sewajarnya ia mengetahui kabar bahagia dari ku. Ku sampaikan mohon doanya ya. 

Ada rasa ingin mengetahui kabarnya , tapi ku tahan, menunggu dia sendiri yang menyampaikan. Ternyata sama. Dia pun sedang menanti buah hati diusia pernikahannya yg memasuki satu tahun. Hanya saja ia mulai terusik dengan celoteh tak beradab oleh teman-teman kantornya.

***

Ada saja yang sering berkata "Wanita yang belum hamil bukanlah wanita sempurna". Entah dari mana kalimat itu pertama kali ku terima hingga pernyataan itu sudah berkarat di telinga.


Dalam diam aku merenung, jika ia, lalu bagaimana dengan Ummul mukminin Aisyah yang seumur hidupnya tak memiliki anak? Apakah hal itu telah mengurangi kemuliannya sebagai istri nabi?


Bukan kah ada orangtua yang akhirnya masuk neraka hanya karena ulah anaknya?  pun ada yang masuk surga karena kesholehan anaknya? Jadi yang kita cari adalah keberkahan atau kebanggaan? 

Jika hanya kebangggan, maka apa bedanya kita dengan orang yang dikaruniai anak dari hasil perzinahan? Hamil di luar nikah?


Aku dan suami terus berusaha saling bersinergi, membaca yang tersirat, memilah hikmah dengan takzim. 
Pak Suami selalu menguatkan bahwa anak adalah rezeki, bukan hak kita untuk menyegerakan, tapi ada kuasa Allah yang mengatur semuanya. 30 menit sebelum tidur adalah quality time mengevaluasi niat dan tujuan kami menikah.


"Aku menikahimu bukan menyuruh memiliki anak, tapi aku ingin kita berdua beribadah seumur hidup, memetik sakinah, memanen mawadah, dan mengepakan rahmah dalam sudut rumah. Agar ketika kita menua bersama dan kemudian meninggal, kita tidak dalam keadaan sia-sia, tapi dalam naungan Ridho-Nya."
***

Menikah dan memiliki anak bukan perlombaan 17 Agustus. Ada menang, ada kalah. Bukan. Ubah kembali paradigma kita untuk menyetel kembali seluruh Janji Allah dalam Al-Qur'an. Ubah kembali niat awal kita, apakah motivasi kita menikah dan punya anak hanya ingin menyenangkan semua orang? 

Hati-hati, bisa jadi itu pintu awal terbukanya sifat ujub dan bangga diri, karena ada rasa ingin diakui sebagai wanita sempurna karena telah melahirkan.


Astaghfirullah. Ku peluk suami, menyudahi muhasabah kita malam itu.


****

Kepingan puzzle selalu saja datang dari berbagai arah. Entah yang manis mencerahkan, atau yang pahit menguatkan. Ku sudahi sampai disini, karena hadirnya ribuan karakter di hadapan kita adalah pelajaran berharga bagi kita.


Jika ada yang ngotot mengomentari kehidupan mu tentang anak, sampaikan saja dengan sopan bahwa harusnya kita juga bisa bertanya balik pada diri sendiri "Kapan akan meninggal?" , "Kapan matahari terbit dari barat?", "Kapan gunung-gunung dan bumi hancur?". Hanya Allah yang tahu jawabannya bukan?


Secantik mungkin kita mengolah hari-hari agar semakin berkah tanpa terusik dengan nyinyiran orang. Harusnya kita bersyukur masih ada waktu luang untuk menambah kebaikan lewat aktivitas lainnya. Misalnya rumahnya kita sulap menjadi klinik belajar untuk anak-anak dan remaja. Entah kita membuka kursus dan privat bahasa inggris atau menebar ilmu Al-Qur'an yang bisa dijadikan amal jariyah. 


Next, kita masih bisa punya banyak waktu free pacaran kemana pun kita inginkan bersama kekasih halal, bisa menabung untuk berlibur di luar daerah dengan mencari tempat untuk menjadi destinasi wisata berdua.

Kemudian kita masih bisa fokus melahap buku-buku teori parenting, masih punya quality time duduk manis di kafe romantis sambil membahas cara mendidik anak berdasarkan Al-Qur'an dan sunnah. Nikmat, bukan? 
Apalagi kita sebagai istri, masih memiliki waktu untuk menimbah ilmu dari berbagai seminar dan workshop di luar daerah. Bukankah mempersiapkan bekal sebelum menjadi orang tua, adalah sebuah kewajiban? 

Anyway, terimakasih cup kecup untuk Pak Suami yang telah mengizinkan dengan ridhonya mengikuti "Pelatihan Tahfidz Balita Metode Tabarrak" di Makassar. Nanti bisa baca cerita ilmunya disini


Selanjutnya, ada yang masih bisa menambah waktu dan budget untuk memprioritaskan apa yang kita butuhkan ke depan, bangun rumah syar'i no KPR misalnya, beli kenderaan tanpa riba dan lainnya. Semua akan terasa lebih berkah bukan? 



Terakhir. Berpositif lah pada Allah. Mungkin kita masih diberi perhatian sama Allah agar lebih meningkatkan ibadah lagi, lebih banyak istigfar dengan taubatan nasuha. Coba seandainya kita belum bertobat, bisa jadi Allah akan menganugrahi anak yang bandel dan keras kepala untuk diajak pada kebaikan dikemudian hari, karena mungkin ada karakter kita yang sebelum hijrah mendarah daging ditubuhnya, apalagi sebagai seorang ibu? Nah, siapa tahu dengan banyak istighfar dan bertobat InsyaAllah akan menghapus jejak buruk kita di masa silam agar tak terbentuk dalam janin bukan?


Ada anak-anak yang akan menjadi neraka buat orang tuanya, ada pun anak yang menjadi surga bagi ibu bapaknya. Pilihannya ada di tangan kita.

Saatnya kita masih diberi waktu untuk berbenah diri, mempersiapkan segalanya dengan menggunting sifat buruk kita yang belum terobati dengan banyak bertobat.


***

Kembali kita menjalani hari. Belajar mamaknai suguhan ilahi, mengasah kepekaan hati, hingga ia siap hadir untuk menawarkan inspirasi untuk para generasi rabbani, bahwa takdir tak ada yang menyalahi, tapi untuk disyukuri dan dipelajari.


Muthmainnah.

Wanita biasa yang masih ingin terus belajar menggapai RidhonNya

1 komentar:

menarik artikelnya. enak dibaca.
thank you for sharing

REPLY

Buku Muti'ah . 2017 Copyright. All rights reserved. Designed by Blogger Template | Free Blogger Templates