Sabtu, 10 November 2018




Mungkin kita akan dibuat bingung dan bertanya-tanya ketika membaca judul buku yang ingin saya review. 

Judul buku        : Perawan Kedua 
Penulis               : Lizha Nurkamiden
Proofreader      : Anjar Lembayung
Desain sampul : Mei Lee
Tata letak           : Tim AE
Cetakan pertama, Oktober 2018

Memang ada ya perawan kedua? Seperti itu yang terlontar dari Pak suami ketika saya menyodorkan naskah mentah dari Seorang Penulis Senior dan berprestasi di Provinsi Gorontalo. Naskah mentah? Yap, saya menjadi pembaca pertama karyanya Kak Lizha Nurkamiden sebelum diterbitkan oleh  AEPublishing.

Bicara tentang makna yang terkandung dalam buku ini tentu sangat variatif bagi setiap pembaca. Yang jelas buku ini secara keseluruhan merangkum seluruh cerita cinta, kehormatan, dan prinsip hidup  seorang Ahsan yang sangat menjunjung tinggi adat bersendikan syara, syara bersendikan kitabullah.

Ada beberapa hal yang membuat saya terdiam lebih lama untuk merenung sejenak, apa itu?
Pada  bab 14 “Adat yang melayukan kembang” 

“Aku melihatmu menyerahkan kain dan segelas minuman di atas nampan untuk pengantin tadi. Boleh aku tahu itu kain apa?” Tanya lany.

“Itu adalah kain untuk pengantin . Meskipun masyarakat pada umumnya sudah melupakan adat ini, tapi keluarga kami tidak. Setiap pengantin di keluarga kami akan diberi kain putih seperti yang kamu lihat tadi. Kain itu akan menjadi bukti  bahwa perempuan yang dinikahi atau menikah dari keluarga kami adalah perempuan yang pandai menjaga kehormatan dirinya. Kain itu akan diserahkan oleh mempelai pria kepada orang tuanya sebagai bukti bahwa perempuan yang ia nikahi adalah perempuan baik-baik. Dulu, kain ini diberikan lebih awal, saat hantaran.” (halaman 72)

Kain putih perawan. Selama 27 tahun menjadi masyrakat asli Gorontalo, jujur ini pertama kali saya mengenal lebih dalam tentang filosofi yang terkandung pada acara adati pernikahan hulondalo, ternyata ada istilah Kain putih perawan. Pesan yang saya dapat dari bab ini adalah meletakkan  kehormatan perempuan itu adalah sesuatu yang mutlak.

Pada awal bab saya sempat menyimpulkan pasti bab selanjutnya saya akan disuguhi keunikah budaya dan adat istiadat yang memuat banyak ilmu pengetahuan, tapi ternyata lebih dari itu. Penulis berhasil  menjebak saya diatas pergulatan rasa yang sesak . Bayangkan saja, saya sangat merasakan betapa gegananya seorang Lany yang mengutuk dirinya soal kehormatan, dan perihnya lagi lelaki itu telah membuka ruang untuknya ke pelaminan, tetapi karena soal kehormatan  yang dijunjung tinggi ,ceritanya malah membuat saya teriris. Bagi saya  ini adalah balasan perempuan yang tak pandai menjaga kehormatan diri pada masa lalunya.

Hingga akhirnya hanya kata seandainya itu yang mengantarkan Lany pulang bersama napas yang meremukan hati.
Seandainya….  seandainya.. seandainya..
Seandainya yang paling gila, seandainya perawan kedua itu ada.
Akankah jarak Ahsan dan Lany memungkinkan untuk bersatu lagi?
***

Buku ini banyak membuka wawasan dan pelajaran filosofi pernikahan bagi saya, selaku warga Gorontalo. Dan sangat recommended dibaca bagi para remaja, khususnya yang sedang bergulat dengan identitas dirinya. Dan sangat wajib dicerna oleh perempuan dan pria yang berniat membangun mitsaqon ghaliza dalam berumah tangga.

Bagi teman-teman yang berminat untuk mengenal lebih dalam tentang apa yang terkandung dalam isi buku ini, atau pengen memiliki buku ini sebagai mini research dalam kajian pustakanya, bisa hubungi penulisnya langsung atau hubungi saya di link ini atau copy link berikut di tab baru. https://bit.ly/2JTQ8Ep


23 komentar

Seru banget, ya ceritanya. Jadi pengen baca novelnya.

REPLY

Buku ini sepertinya layak dibaca perempuan ya mbak....kisahnya menarik

REPLY

Wah berarti buku ini cocok buat saya mbak, yang sedang bergulat dengan identitas diri hheehehehe

REPLY

Indonesia memang kaya dengan filosofi budaya masing-masing daerah yang tidak dimiliki daerah lain. Saya juga baru dengar filosofi seperti ini dan memang sebaiknya kita sebagai penulis untuk ikut mengangkat dan memperkenalkan filosofi daerah masing-masing.

REPLY

Wow. Keren nih mbak Muti. Selamat ya

REPLY

Xixix ini bukan karya saya Mbak bety 😂..
Anyway makasih yaa

REPLY

Tepat sekali mbak..
Salah satu cara kita menjaga adat daerah kita yakni dngn mengabadikannya lewat aksara..
Seperti pada novel ini

REPLY

Wah iya yaa?
Monggo mbak kalau mau pesan 😂

REPLY

Silahkan mbak..
Bisa pesan langsung ke Penulisnya atau link di bawah

REPLY

Wah baru tau ada tradisi dan adat seperti ini. Nice sharing mbaa

REPLY

Makasih sharenya Mbak, jadi penasaran 😊

REPLY

Indonesia memang kaya adat istiadat.keren..

REPLY

Maasyaa allah..
Selamat buat kak lizha nurkamiden dan semoga muthy juga bisa bertelur prestasi lagi yah. Semakin bertambah dan bertambah terus ilmunya serta jangan lupa share yah ke pelajar seperti ana😁 ana selalu menantikan muthy juga bisa punya buku karya sendiri😍😍😘😘

REPLY

Seandainya....
Ya, seandainya ada perawan kedua ya, mba 😄

REPLY

Wooo ya ya pernah baca juga tentang tradisi ini di negara lain. Great posting mb!

REPLY

mbak jadi pengin baca bukunya
kayaknya bagus....

REPLY

Bukunya bagus bangget,, Apalagi di era pergaulan bebas sekarang ini wanita memang harus lebih menjaga kehormatannya
Thanks for share 😊

REPLY

Perawan ke-2..
Seperti apa yaa? Penasaran dengan isi bukunya.

REPLY

Judulnya menarik. Perawan kedua ini perandaian dari kisah cinta yang terkekang adat. Jadi penasaran. Hehe

REPLY

Ngedapetinny gmn mb
Beliny mksdny

REPLY

Keren ya, sha selalu tertarik dengan adat-adat pernikahan. Kenapa ini harus begini kenapa harus begitu, dan filosofinya di tengah-tengah ke modern.an :)

REPLY

Buku Muti'ah . 2017 Copyright. All rights reserved. Designed by Blogger Template | Free Blogger Templates