Sabtu, 10 November 2018


sumber : yahoo.com


Anak-anak itu unik dengan warnanya sendiri. Jika kita menyentuh mereka dengan cinta, respon setelah itu akan membuat kita meleleh. Ternyata mereka mampu menaklukan kerasnya dunia. 


Sore ini, Saya menyaksikan episode pertengkaran diantara Chila dan Qeyra.
Dari kejauhan Saya melihat Chila melempari semua batu kerikil, yang sudah ditata  oleh adik kelasnya, Qeyra.  Beberapa kerikil nyaris  mengenai tubuhnya. Nampak dari jauh mereka saling bersih tegang , melempar argumentasi  untuk pembelaan

“Qeyra jahat !” Jerit Chila ditengah isak tangisnya.

“Kakak Chila juga jahat!  Merusak semua kerikilku! Qeyra kan sudah lama menyimpan batu-batu kecil itu !” Protes Qeyra tak kalah keras membela diri. Qeyra mendekati saya sambil menangis, melaporkan kakak kelasnya,Chila.

Melihat anak-anak bertengkar, secara spontan teringat masa kecil yang pernah hadir di episode ini, yang mungkin sangat sepele dan lucu jika dinostalgia kembali. 

Tingkah mereka yang menggemaskan di usia 5 dan 6 tahun, seolah ada ransangan untuk menarik tangan ini untuk mendekap, mengelus lirih dalam doa. 
 “Ya Allah lembutkanlah hati mereka berdua, Engkaulah Maha dari segala kelembutan di dunia ini”. 

Karena jam istrahat sudah selesai. Saya ajak anak-anak semua masuk dalam ruangan.
Setelah itu Saya mengajak mereka bicara, dan menampung semua keluhan mereka. Namanya juga anak-anak, saat itu mereka lagi tak ingin diceramahi. Sebelum saya memberikan solusi , maka saya menjelma pendengar yang baik untuk menawarkan emosi mereka yang berhamburan. 
Akhirnya mereka berdua dengan argumen yang kritis dan lucu, mulai mempresentasikan kesalahan.

“Kakak Chila, Kakak Qey... Masih ingat cerita  yang dikisahkan kemarin?” 
Saya mulai memasuki ruang mereka dengan pertanyaan- pertanyaan kecil.

“Saya tak ingin membuat syetan senang dan bertepuk tangan  Bu Guru. Tapi, Saya sedih tak diajak berteman, Saya ditinggal sendirian sama Qeyra dan teman-teman." 
Chila nyeletuk. Masih dengan wajah ketusnya.

“Bu guru, Syetan itu kan musuh saya. Jadi mana mungkin Saya membantu mereka. Mereka kan cita-citanya menggoda manusia biar bertengkar. Tapi , Saya juga nggak terima Kakak Chila sudah merusak kerikil yang sudah saya tata sejak pekan lalu.” Wajah manis Qeyra buat saya nahan ketawa.

Rupanya mereka mulai menyadari  bahwa kisah yang diceritakan kemarin, sangat mirip dengan pertengkaran mereka sore ini. Padahal saya tak lagi mengulangi cerita itu. Cukup melempar tanya dan membiarkan mereka  berfikir sejenak.

Dalam diam Saya salut pada mereka berdua yang masih aware bahwa pertengkaran mereka adalah kemenangan para iblis untuk merayakan kemenangan. Karena Iblis telah berhasil menggoda dan menyulut api kemarahan pada mereka berdua.

Akhirnya saya menawarkan solusi.

Solusi yang bisa mereka terima bersama. Saya memandu mereka untuk saling memberi maaf lewat sebuah genggaman. Qeyra lah yang lebih awal mengulurkan tangannya, tanpa ada rasa canggung dan tulus. Terpancar aura manis seolah berkata “Aku ingin mencintaimu dengan rasa maaf ini, tolong terima lah uluran tanganku, ayolah terima, jangan lama-lama”

Namun di sisi lain, Chila terlihat sangat kaku menerima uluran tangan Qeyra.

Mungkin, sekitar sepuluh detik Chila baru mau menerima ulurannya. Itu pun masih canggung dan ketus. Saya memberi solusi untuk saling melempar senyum termanis. 

Eh, tiba-tiba Chila yang tadinya masih keras dengan keakuannya, langsung memeluk Qeyra tanpa instruksi dari saya. Dipeluk erat lah adik kelasnya, ke- dua tangannya melingkari perut Qeyra dengan kencang, ada bisikan manis yang buat saya terharu

 “ Ti Tata sayang ti nunu”, 

artinya kakak sayaang dedek."

Tata adalah Sapaan manja dari seorang kakak di Daerah Gorontalo.

Entah dari siapa kalimat itu dijiplak. Tapi Saya yakin lingkunganlah yang telah membentuk perbendeharaan kata mereka  menjadi penuh cinta. Mungkin kalimat manis itu sering didengar dari orang tuanya, lingkungan sekolahnya, atau orang terdekatnya, yang pada akhirnya ia tularkan pada yang lain. Oh, betapa pentingnya lingkungan mendesign sikap dan pola tutur mereka. 

Menjadi guru dan orang tua ternyata memang harus selalu belajar  untuk hal-hal baru yang kita temukan pada keunikah setiap anak.

Anyway , Chila dan Qeyra adalah salah satu anak-anak bimbingan saya di Klinik belajar Mutiah . Kenapa saya sebut ini klinik, karena saya ingin belajar mengobati kebodohan saya dalam mendidik dan mencinta, melalui karakter anak- anak manis yang saya ajak belajar bersama. 

Mereka terdiri dari balita dan remaja SMP. Saya mengambil peluang untuk belajar mencintai mereka dengan pola pendidikan yang saya akumulasi dari berbagai referensi yang saya baca, workshop dan seminarnya yang pernah saya ikuti, atau hasil dari diskusi kecil dari pengalaman para orang tua yang telah berhasil menumbuhkan cinta pada ana- anaknya lewat sebuah sentuhan.

Sebagai guru dan kakak bagi anak-anak, banyak sekali ilmu yang saya pahat dan pelajari dari interaksi bersama mereka yang sekilas tampak remeh, tapi bagi saya itu peluang bagi saya untuk membekali diri untuk menjadi orang tua yang sesungguhnya.





Buku Muti'ah . 2017 Copyright. All rights reserved. Designed by Blogger Template | Free Blogger Templates