Rabu, 23 Juni 2021

 

Dalam bening matanya dan renyah celotehnya, anak-anak  menghadirkan kehidupan apa adanya. Celoteh mereka setiap hari tidak statis tapi mata dan telinga menyimpan kekuatan rekam paling ulung, maka tak heran saya sering dibuat kaget oleh ungkapan ajaib dari lisannya, my lovely son Abizar.

‘Ummah, hayang ... hayang ... [sayang]’ Bibir mungil menempel manja di wajah kami.

‘Abah, hayang ... hayang ...’ 

Pelukan hangat pun melingkar di bahu kami.

 Seolah ada payung teduh melindungi  panasnya lelah tak berkesudahan. Semuanya sirna dengan satu kecupan manis dari bibirnya.

Kelucuan dengan segala kekhasannya juga  mulai mewarnai hari- hari kami berdua.

Abah ..., abah ..., Azaaam, Azaaam  [Azan] Soat ... soat ... [sholat] , meejid’  [mesjid]

Suaranya menggema antara ruang tidur dan ruang kerja bapaknya. 

Saya  sedang menyusui tiba-tiba merasa ‘wow’ diikuti pecah ketawa yang penuh kekagetan. Ini benaran anakku yang ngomong? Otak saya mencari tahu kapan saya ngajarin?  Tangan ini sambil mengelus-mengelus kepalanya, membelai rambut kriwilnya yang ia sandarkan kembali ke ketiak, melanjutkan persusuannya yang sempat terhenti  mendengar azan isya. Maasyaa Allah tabarakallah.

Abahnya pun segera meninggalkan computer , mempersiapkan sarung, baju koko dan farfumnya. Sedangkan saya masih terkesima , iya, betul, saya masih belum percaya , masih kaget anak usia satu tahun sudah jadi penasehat baik , ya, reminder kebahagiaan pada ibadah - ibadah  kami yang  penuh  lalai.

Sepertinya dia sudah merekam percakapan orang tuanya tanpa disadari oleh kami berdua. Saya masih berdiri pada doa yang sama, 'semoga anakku hanya akan merekam hal-hal yang baik
dari diri ini, diri yang penuh kekurangan dan aib. Ya Allah, tutuplah aib kami di hadapan anak-anak '

Robbiy Habliiy Minashoolihin...

 Ummah Abizar

Juni 2021


Buku Muti'ah . 2017 Copyright. All rights reserved. Designed by Blogger Template | Free Blogger Templates