Sabtu, 23 Oktober 2021

 Ummahku, Madrasah Pertamaku

Sebelum aku memulai hubungan sosialku dengan orang-orang sekeliling, tentu saja Ummah adalah orang pertama yang menjalin hubungan sosialnya denganku. Bagaimana mungkin? Ya, karena pada fase pertama aku mengenal aroma tubuh ketika ummah menyusuiku selama dua tahun. 

Selain itu, bahasa ummah adalah bahasa pertama yang aku pelajari . Logat ummah yang aku dengarkan pada usia dini sudah tertanam dalam diriku sejak usia bayi, belum lagi intonasi ummah ketika membacakan cerita disetiap buku-buku yang ummah sediakan untukku, cara marah ummah pun terekam dalam ingatanku, bagaimana ummah sedih melihat tingkahku yang hampir tiap hari nangis kejer minta dituruti keinginan yang membahayakan diriku, bagaimana wajah ummah menahan malu dan sabar ketika ada orang lain terganggu dengan setiap tangisanku, sehingga cibiran dan sindiran orang yang tak memahami kondisiku membuat ummah menangis dalam diam.  

Ummah seperti terkena  baby blouse krn merasa gagal menjadi ibu yang baik. Seandainya aku sudah paham dan mengerti aku pasti tak akan membuat ummah bersedih, apalagi usiaku yang mau memasuki usia dua tahun adalah masa-masa aku ingin mengenal dan mencari tahu, entah itu baik atau salah, ini adalah masa emasku untuk belajar. Hanya saja aku belum bisa memposisikan diri sebagai anak yang paham ini yang baik atau tidak.


Untung saja ada satu kalimat yang selalu aku tujukan untuk ummah ketika ummah marah. kalimat yang sepenuhnya mendinginkan hatinya ketika marah menguasai. Hatinya akan luluh dan menetes jernih saat aku memeluknya.  setiap moment aku selalu memeluknya dengan kalimat sapu jagat itu. Seketika wajah merahnya padam saat kalimat itu kuucapkan sambil menangis memeluknya. Dari mana kalimat itu kupelajari? Dari madrasah pertamaku. Ya, Kalimat itu yang selalu kuterima saat ia memelukku memberi kehidupan yang sesungguhnya,  lewat tetesan Air susu ibu yang menguatkan bonding diantara kita.

Pernah suatu ketika aku menumpahkan air  ke dalam makanan dan sayur yang baru saja ummah sajikan untukku. Saat itu usiaku satu tahun 10 bulan. Awalnya ummah diam dalam marah, mencoba menguasai hati agar nada suaranya tak akan naik , namun rasa ingin tahuku pada jenis makanan yang ummah sajikan, tak menghentikan tanganku untuk bereksplorasi,  aku dengan santai menceburkan tangan pada nasi yang berkuah, kuremas-remas dan menghamburkannya ke lantai. Aku lanjut menginjaknya sambil loncat-loncat. Hampir saja aku jatuh, lantai sudah becek dengan kuah sayur yang ummah masak untukku. Polosnya aku  teriak Istigfar sekeras-kerasnya, "Astagfirulah, astagfirullah, Ti Abizar tii, Ya Allah .. Abizar ini, astagfirullah Ti Abizar tii'.  , Aku seperti sedang memutar  ulang potongan kalimat ummah. 

"Ya Allah Abizaaaar, Astagfirullah, ummah marah, marah ummah sama Abizar, ini tidak baik! tidak baik! Kalau kau jatuh bagaimana, ya Allah Abizaaar" Ummah gemetaran mendekatiku sambil mememlukku ke dalam kamar. Ummah masih membiarkan makanan yang berserakan di lantai, seperti sedang kehilangan tenaga aku liat ummah seperti orang yang pasrah. Apalagi saat itu ummah belum makan. 

Ummah tiba-tiba diam di pojok kamar melepasku dalam pelukannya, dibiarkanlah aku melakukan apapun yang aku mau. Ummah diam seribu bahasa, tapi ada air matanya yang menetes yang sedang berusaha dia sembunyikan. 

Kutatap wajah ummah yang basah dengan wajah polos, tapi ummah malah memalingkan wajahnya ke arah yang lain. Aku dibiarkan menangis kejer dalam kamar. Karena aku ingin meminta perhatian, maka aku melakukan hal-hal yang mengundang ia marah, aku memanjat jendela dengan ketinggian yang membahayakan, tapi ummah seolah ogah memarahiku, walaupun aku tahu matanya tetap awas melindungi tubuhku seandainya jatuh. Aku melompat -lompat di atas kasur dengan kencang, tetap saja ummah mendiamkanku, ummah cuek dengan semua yang aku lakukan. Akhirnya aku nangis kejer meminta air, tapi ummah diam saja, kulihat masih ada tetes air mata di wajahnya. 

Segera kupeluk ummah dari belakang dengan hati yang tulus kuteriak di antara tangisan yang pecah berserakan dalam ruangan, 'Ummah... Abizar sayang Ummah karena Allah, Abizar sayang Ummah karena Allah". 


Spontan tangan lembutnya segera merangkulku setengah bersalah, memohon maaf padaku sambil bilaang Ummah juga sayang Abizar karena Allah. Ummah minta maaf ya nak, minta maaf ya nak. Ummah mencium tanganku dengan penuh rasa bersalah, seolah ibu adalah dalang kesalahan dari kejadian sesak hari ini. Padahal bisa saja itu rasa salahku karena ketidaktahuanku. 

Kita saling berpelukan seperti sedang memaduh kasih. Kurasakan hangatnya tubuh yang lelah seharian mengurusiku tanpa abah disamping. Abahku saat itu sedang bekerja mencari nafkah berkah untuk kami, begitu kata abah padaku setiap kali abah pergi. 


Buku Muti'ah . 2017 Copyright. All rights reserved. Designed by Blogger Template | Free Blogger Templates